Sabtu, 11 April 2015

PERPUSTAKAAN DIGITAL
Kompetensi Utama dan Profesi Pustakawan Digital

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
ARDINAL NAINGGOLAN
130709098
B

ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2015
KOMPETENSI  YANG HARUS DIMILIKI PUSTAKAWAN DIGITAL
   Shapiro dan Hughes (1996) yang menyatakan bahwa ada tujuh keterampilan yang dibutuhkan pustakawan  dalam era digital ini, yaitu:
1.Tool literacy
 kemampuan memahami dan mengunakan alat teknologi informasi secara konseptual maupun praktikal, termasuk di dalamnya kemampuan menggunakan perangkat lunak, keras, multimedia, yang relevan dengan bidang kerja atau sutdi. Termasuk di sini adalah pengetahuan dasar komputer dan aplikasi jaringan, juga pemahaman dasar tentang konsep algoritme, struktur data, topologi jaringan, dan protokol komunikasi data.
 2. Resource literacy
kemampuan memahami bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan sumberdaya informasi, terutama dari jaringan informasi yang terus berkembang. Pengetahuan ini sesuai dengan konsepsi pustakawan tentang information literacy, dan mencakup di dalamnya pengetahuan tentang klasifikasi dan pengorganisasian sumberdaya informasi tersebut.
 3. Social-structural literacy
pemahaman yang benar tentang bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak di dalam sebuah masyarakat. Ini artinya memahami siapa-siapa yang berada dibalik produksi informasi ilmiah, jaringan ilmuan mana yang menghasilkannya, apa kaitannya antara satu produsen dengan produsen lainnya, apakah ada lembaga yang dominan dalam proses itu (universitas, pemerintah, swasta). Ini juga berarti memahami bahwa ada proses formal yang harus dilalui oleh setiap informasi ilmiah sebelum dapat diakui sebagai ilmiah.
4. Research literacy
kemampuan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset. Para mahasiswa pascasarjana mungkin harus tahu bagaimana menggunakan Internet sebagai lapangan penelitian, memanfaatkan perangkat lunak statistik untuk analisis, atau perangkat lunak khusus untuk penelitian kualitatif. Para peneliti dituntut untuk semakin terampil menggunakan komputer dalam setiap tahap kegiatan penelitiannya.
 5. Publishing literacy
kemampuan untuk menyusun dan menerbitkan publikasi dan ide ilmiah ke kalangan luas dengan memanfaatkan komputer dan Internet. Kemajuan teknologi saat ini, ditambah dengan gerakan-gerakan yang ‘membebaskan’ para ilmuan dari kukungan tradisi ilmu yang ketat di jaman cetakan, membuka kesempatan amat luas bagi setiap orang untuk menampilkan pemikirannya di Internet. Kemampuan membuat situs di Internet dan merawat serta mengundang pengunjung dalam jumlah besar, kini nyaris menjadi tuntutan umum bagi para cendekiawan.
 6. Emerging technology literacy
kemampuan yang memungkinkan seseorang untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi dan bahkan bersama-sama komunitasnya ikut menentukan arah pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu. Perkembangan mailing-list merupakan contoh bagaimana sekelompok orang yang cekatan dapat memanfaatkan Internet secara baik, walaupun pada mulanya teknologi ini hanya merupakan ‘usus buntu’ bagi program email.
7. Critical literacy
yang merupakan kemampuan melakukan evaluasi secara kritis terhadap untung-ruginya menggunakan teknologi telematika dalam kegiatan ilmiah. Seorang cendekiawan yang kritis diharapkan tidak menerima begitu saja kenyataan tentang teknologi yang sekarang tersedia secara meluas, dan dapat melakukan pemeriksaan terhadap manfaat teknologi bagi kegiatan ilmiahnya. Untuk memiliki kemampuan ini, seringkali seseorang harus rajin menyimak perkembangan teknologi itu sendiri dan memahami, atau setidaknya mengetahui, sejarah dan latarbelakang
(Sumber : http://eprints.undip.ac.id/5367/2/makalah_pak_putu.pdf diakses tanggal 1 April 2015 jam 1.30 wib )

Keterampilan teknis pustakawan digital
1.Database design and management
 Keterampilan  pengetahuan dan pengalaman dengan desain database relasional, penyebaran dan manajemen termasuk kemampuan dengan SQL pada kedua database server komersial dan open source.
2 . Digital collection management
Keterampilan ini berupa  pemahaman dan pengalaman mengelola semua aspek dari koleksi digital termasuk kemampuan teknis secara keseluruhan dalam alat dan teknologi yang berkaitan dengan repositori digital dan pengembangan koleksi digital.
3.Digital content management systems
Keterampilan ini berupa pengalaman menggunakan atau mengelola konten umum sistem manajemen termasuk system  manajemen aset digital . contoh-contoh spesifik
termasuk DSpace, CONTENTdm , Drupal, Luna Insight, DLXS, WordPress, and Omek
4. Digital convertion
Keterampilan ini berupa  pengetahuan tentang  konversi analog bahan-bahan untuk format digital dalam  konteks perpustakaan. Ini mencakup pengetahuan digitalisasi peralatan dan praktik terbaik,format file arsip, dan memformat audio dan video.
5 . Digital preservation
 Keterampilan ini berupa  pengetahuan dan pengalaman dengan pelestarian baik analog dan digital bahan dan kemampuan untuk mengelola pelestarian berkelanjutan konten koleksi digita
6 . Metadata and cataloging standards
 Keterampilan ini berupa memahami standar – standar yang berlaku  dan akrab  dengan metadata yang baru muncul atau dibentukdan standar  katalogisasi termasuk Dublin Core, EAD,TEI, FRBR dan RDA sebagai sebagai kosakata terkontrol (controlled vocabularies ).
7 . Programming: JAVA, C, Cþþ
Keterampilan ini berupa pemahaman secara menyeluruh  tentang
bahasa pengembangan seperti  JAVA, C, Cþþ, etc.
8 .Programming: scripting languages
 Keterampilan ini berupa kemampuan  dalam memahami  bahasa pemprograman seperti PHP, Perl, JavaScript, Ruby dan Python.
9 .Systems and network administration and desktop support
Keterampilan ini berupa pemahaman  dalam menggunakna Sistem Operasi Unix / Linux / Windows
server, merancang dan mengelolajaringan, dan menyediakan dekstopkonfigurasi dan dukungan untuk kedua Mac dan Windows PC.
10 .Web application development
Keterampilan ini berupa kemapuan dalam menggunakan bahasa scripting, relasional database dalam penciptaan situs web dinamis  dan aplikasinya .
11 . Web design and web standards
 Keterampilan ini  berupa pemahaman tentang desain web standar termasuk HTML,XHTML, CSS, desain antarmukadan platform perangkat lunak umum dalam pengembangan web sepertiDreamweaver.
12 .XML and related standards
Keterampilan ini berupa pengalaman dengan XML dan teknologi yang terkait seperti XSLT dan XML database.
( sumber : http://sc.lib.muohio.edu/bitstream/handle/2374.MIA/4942/Article.pdf?sequence=1 diakses tanggal 1 April Pukul 15.05 wib)

B . Keterampilan komunikasi interpersonal
Keterampilan komunikasi interpersonal sangat penting bagi pustakawan, karena dalam kegiatan layanan informasi pustakawan berhadapan langsung dengan para pengguna perpustakaan atau pencari informasi. Mengacu pada keterampilan komunikasi interpersonal yang dikemukakan oleh DeVito, berdasarkan Humanistic Model dan Pragmatic Model, juga dengan memperhatikan situasi dan kondisi kegiatan di perpustakaan, maka keterampilan komunikasi interpersonal yang harus dimiliki pustakawan adalah: empathy, supportiveness, positiveness, equality, confidence, immediacy, interaction management. Disamping itu seorang pustakawan juga harus memiliki kemampuan mendengarkan yang baik.
(sumber : http://pustaka.unpad.ac.id/archives/57167/ diakses tanggal 01 April 2015 Pukul    16.42 WIB)


Kompetensi pustakawan di era 2.0
Berbagai perubahan yang dibawa oleh library 2.0 mensyaratkan adanya transformasi dalam diri pustakawan, berupa peningkatan kapasitas, kompetensi, kecerdasan, dan perbaikan sikap.
 Dalam bahasa Agus M. Irkham (2009), librarian 2.0 harus memiliki kemauan untuk berbagi, bersahabat, gaul, mahir menulis, dan aktif dalam berbagai jejaring sosial. Jargon “berbagi pengetahuan” yang merupakan prinsip dasar dari web 2.0 benar-benar diaplikasikan oleh sosok librarian 2.0 ini. Mereka bergerak aktif membangun kemampuan literasi pengguna, baik di dunia nyata maupun maya, bersikap proaktif, dan mampu melakukan transfer pengetahuan. Abram (2007:2) menguraikan prasyarat-prasyarat untuk menjadi librarian 2.0, antara lain:
(1) memahami benar-benar berbagai manfaat yang ditawarkan oleh web 2.0,
(2) mau mempelajari alat dan perangkat utama web 2.0 dan library 2.0,
(3) mampu memadukan format koleksi digital dan tercetak,
(4) mampu mengakses informasi dalam berbagai format,
(5) mampu menggunakan informasi non tekstual, seperti gambar, suara, citra bergerak,
(6) menggunakan dan mengembangkan jejaring sosial untuk memperoleh manfaat maksimal,
(7) mampu berkomunikasi dengan orang lain melalui beragam teknologi, seperti telepon, Skype, IM, SMS, texting, email, referensi virtual, dan lain sebagainya.

Selain terampil memaksimalkan potensi web 2.0, pustakawan dalam era 2.0 secara umum juga harus mengembangkan kompetensi profesional dan pribadinya. Menurut Laili bin Hashim dan Wan Nor Haliza (2005:5-6), kompetensi profesional dan pribadi ini perlu sekali untuk menyiapkan pustakawan dan profesional informasi yang tangguh di era baru TIK. Kompetensi profesional pustakawan berkaitan dengan pengetahuan khusus mengenai kepustakawanan, terutama dalam bidang sumber daya, akses, teknologi, manajemen dan riset informasi, serta kemampuan untuk menggunakan bidang pengetahuan tersebut sebagai basis untuk menyelenggarakan layanan informasi dan perpustakaan. Sedangkan kompetensi pribadi merepresentasikan seperangkat keterampilan, sikap, dan nilai yang memungkinkan pustakawan untuk bekerja secara efisien, seperti menjadi komunikator yang baik, fokus pada pembelajaran berkelanjutan selama berkarir, dan mampu menunjukkan nilai tambah dalam sumbangsih mereka. Kompetensi profesional pustakawan meliputi:

• memiliki pengetahuan khusus mengenai konten sumber daya informasi, termasuk pula kemampuan untuk mengevaluasi dan menyaringnya secara kritis;
• memiliki pengetahuan subyek khusus yang tepat untuk kepentingan organisasi dan pengguna;
• mengembangkan dan mengelola layanan informasi yang tepat, mudah diakses, dan efektif biaya yang sejalan dengan tujuan strategis organisasi;
• menyediakan instruksi dan fasilitas pendukung untuk pengguna jasa perpustakaan dan informasi;
• menaksir kebutuhan informasi, mendesain dan memasarkan jasa dan produk yang memiliki nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan informasi yang telah diidentifikasi;
• menggunakan teknologi informasi yang tepat untuk memperoleh, mengorganisasi, dan menyebarkan informasi;
• menggunakan pendekatan manajemen dan bisnis untuk mengkomunikasikan pentingnya layanan informasi bagi kalangan manajemen senior;
• mengembangkan produk informasi khusus untuk penggunaan di dalam maupun di luar organisasi atau oleh pengguna individual;
• mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan penelitian tentang pemecahan masalah manajemen informasi;
• meningkatkan layanan informasi secara kontinyu untuk merespon kebutuhan yang terus berubah

Sedangkan kompetensi pribadi pustakawan meliputi:
• komitmen untuk pelayanan prima;
• mencari tantangan dan melihat kesempatan baru di dalam maupun di luar perpustakaan;
• turut menciptakan lingkungan yang saling respek dan saling mempercayai;
• memiliki kemampuan komunikasi yang efektif;
• mampu bekerja dengan baik dalam tim;
• memiliki kemampuan kepemimpinan;
• merencanakan, memprioritaskan, dan berfokus pada apa yang mendesak;
• berkomitmen terhadap pembelajaran seumur hidup (lifelong learning);
• memiliki skill bisnis dan menciptakan kesempatan baru;
• mengetahui nilai dari jejaring dan solidaritas profesional;
• bersikap fleksibel dan positif dalam menghadapi perubahan

Library 2.0 membuka berbagai kemungkinan baru untuk membantu pustakawan mengembangkan kompetensinya, terutama bagaimana pustakawan dapat turut mengambil peran membangun kemampuan literasi masyarakat. Sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh John Perry Barlow dalam Wastawy (2007), “Pustakawan harus memahami bahwa mereka memiliki tugas untuk menciptakan sebuah ruang kognitif dalam lingkungan. Mereka harus memastikan diri bisa menyediakan sebuah ruang yang kaya, dimana manusia bisa berkumpul, berinteraksi, dan menjadi manusia yang ‘lebih’. Jika pustakawan mampu melakukan itu dengan baik, maka mereka akan menjadi bagian dari masa depan”.


 Sedangkan menurut Hawamdeh dan Foo (dalam Foo, 2008) mengutarakan bahwa seorang pustakawan/spesialis informasi harus memiliki kompetensi dan kemampuan dalam:
1. Manajemen dan kepemimpinan
Merancang strategi untuk mengatasi kebutuhan pengetahuan informasi yang kompleks.
Mengembangkan, memelihara, mengakses sitem informasi dengan biaya seefektif mungkin
Memotivasi dan mendorong berbagi pengetahuan
Mengelola pengetahuan eksternal dan membawa sumber daya berharga ke dalam organisasi dan anggotanya 
2. Sosial dan komunikasi
Kemampuan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan anggota organisasi sebagai individu, tim, dan masyarakat
Kemampuan untuk membujuk
Mampu berkomunikasi dengan jelas, baik secara lisan dan dalam bentuk tertulis.
3. Perilaku personal dan atribut,
yaitu seorang pustakawan harus mempunyai sikap yang proaktif, responsif, bersahabat, kreatif, percaya diri, sensitif, menyenangkan, sabar, fleksibel, serta kedalaman atau subjek khusus dan latar belakang pengetahuan yang tepat untuk organisasi

4. Strategi berfikir dan kemampuan analisis
Menunjukkan sistem berpikir
Memahami proses bisnis
Informasi membutuhkan proses bisnis dan tujuan.
Kemampuan untuk berpikir logis
Buat cara baru untuk memperoleh informasi dan pengetahuan.
Buat nilai tambah layanan informasi / sistem / produk.
5. Kemampuan mengakses informasi
Mencocokkan kebutuhan informasi dengan sumber daya informasi
Keahlian dalam sumber-sumber dan isi informasi
Keahlian dalam mencari informasi
Kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan merekomendasikan sumber informasi
Memberikan akses informasi
Kemampuan untuk menerapkan keterampilan organisasi informasi menjadi pengetahuan integrator internet dan pengetahuan intranet
6. Alat dan teknologi
Up to date dan familier dengan alat KM & IT dan perkembangannya
Penguasaan sistem informasi di rumah
Penguasaan alat di rumah untuk  pengetahuan menangkap (capture), diseminasi, dan berbagi.

Peluang kerja lulusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Peluang kerja yang potensial untuk dijalani oleh Sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan dengan memanfaatkan pengetahuannya di bidang Informasi dan Perpustakaan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan DITJEN DIKTI yaitu Sailah (2011) menjelaskan bahwa profil lulusan memaparkan ”peran” yang diharapkan bisa dilakukan oleh lulusan di dunia kehidupan.
 Peran ini bisa menunjuk kepada suatu profesi (dokter, arsitek, pengacara) atau jenis pekerjaan yang khusus (manager perusahaan, praktisi hukum, akademisi) atau bentuk kerja yang bisa digunakan dalam beberapa bidang yang lebih umum (komunikator, kreator, leader) yang dicanangkan oleh program studi yang bersangkutan. Dari rumusan hasil sidang pleno Kurikulum Pendidikan Ilmu Perpustakaan tahun (2011) telah disepakati bahwa Profil sarjana perpustakaan adalah Pengelola dan Pengembang Perpustakaan dan Pusat Dokumentasi – Informasi), pengkaji informasi, pendidik, manajer, agent of change (penggerak masyarakat), dan communicator.
 Berdasarkan Laporan Evaluasi Diri Program Studi Sarjana Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga tahun 2011, disebutkan bahwa lapangan pekerjaan yang diprediksi dapat menyerap lulusan prodi Ilmu Informasi dan Perpustakaan antara lain adalah :
 a.Pusat dokumentasi baik di instansi negeri maupun swasta
b.Pusat informasi (lembaga riset) di berbagai perusahaan, organisasi, dan instansi
 c.Pusat arsip di instansi negeri maupun swasta
 d.Badan arsip baik di daerah maupun provinsi
e.Perpustakaan umum baik dan provinsi
f. Perpustakaan sekolah negeri dan swasta
 g.Perpustakaan perguruan tinggi negeri dan swasta
h.Perpustakaan khusus (dinas negeri dan swasta)
 i. Wirausaha di bidang pengolahan dan pengelolaan informasi
 j. Bisnis informasi online
 k.Bidang pengolahan dan pengelolaan informasi di berbagai lembaga bisnis maupun pemerintahan (misalnya perbankan, media massa, BUMN/BUMD, dan lain-lain).
Selain lembaga dan lapangan kerja di atas, tidak menutup kemungkinan adanya lembaga atau instansi dan lapangan kerja lain yang membutuhkan dan bisa dimasuki lulusan prodi ilmu informasi dan perpustakaan. para lulusan dipersiapkan tentu bukan untuk profesi yang sifatnya “teknis” atau sekedar menjadi tukang, melainkan lulusan yang memiliki kemampuan metodologi, kemampuan manajerial, dan kemampuan yang komprehensif, yang didukung bidang keilmuan yang sifatnya eklektif dan terpadu. Beberapa literatur memberikan identifikasi peluang profesi bagi lulusan pendidikan Ilmu Informasi dan Perpustakaan.
Shontz and Richard (2007) dalam bukunya A Day in the Life Career Options in Library and Information Science memberikan gambaran tentang ragam profesi dalam konteks Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Tulisan dalam buku ini mengcover pekerjaan dari information professional di banyak Negara yaitu amerika serikat dan kanada, Australia, Bolivia, Inggris, Jerman, Hungaria, Nigeria, Norwegia, Filipina, Qatar dan Skotlandia. Berikut adalah resume penulis, mengutip dari Shontz and Richard (2007)
1. Bidang kerja di perpustakaan umum meliputi pekerjaan mengenai desain program untuk user di beragam usia (adult, teen, children’s librarian); memberikan bimbingan untuk orangtua-anak tentang pengembangan koleksi untuk anak (buku fiksi, non fiksi, majalah, CD, DVD dan sebagainya); display dan pelayanan koleksi multimedia seperti musik, film, CD-ROMs, audiobooks (disebut multimedia librarian); perawatan fasilitas di perpustakaan, organize programming, strategic planning, financial accountability, posting blog, pengembangan SDM, (tugas administrator) ; tim pengembangan koleksi (finding the right book for the right reader).
2. Bidang kerja di perpustakaan khusus hampir sama dengan pustakawan pada umumnya, yaitu pengadaan – pengelolaan – dan pelayanan koleksi. Namun pada perpustakaan khusus, koleksi yang dimiliki khusus yaitu hanya pada subjek keilmuan tertentu saja disesuaikan dengan patron community yang dilayani. Implikasinya adalah pustakawan harus paham benar dengan subjek keilmuan yang dikelolanya sehingga dapat mengikuti perkembangannya untuk akuisisi sekaligus wawasan dalam penyampaiannya pada user. Keberadaan perpustakaan khusus ada pada museum, kepolisian, pusat kesehatan, kedutaan besar, arsip film, komunitas, kelompok berkebutuhan khusus/disable dan sebagainya.
3. Bidang kerja di perpustakaan akademik meliputi pekerjaan mengenai pelayanan referensi (reference librarian); melakukan katalogisasi dan klasifikasi dari banyak koleksi di beragam format dan beragam subjek (cataloging/training librarians); melakukan katalogisasi dan klasifikasi koleksi non buku sesuai standar MARC dan Dublin Core seperti peta, buku elektronik, audio-books, mikrofis, microfilm, CD-ROMs, rekaman suara, rekaman video, database online, dan sebagainya (disebut special material cataloger); melaksanakan sirkulasi, pemesanan, dan pemeliharaan koleksi (disebut Access Services Librarian); mengorganisasi sumber informasi digital untuk institusi seperti pengembangan Online Public Access  Catalogue, persipapan insfratrukstur pendukung interlibraryloan, Open Access, Metadata, (disebut Metadata Specialist).
4. Bidang kerja di perpustakaan sekolah: Seorang pustakawan di sekolah internasional di Bolivia menyatakan bahwa tanggungjawabnya dalam manajemen perpustakaan meliputi pengembangan koleksi (seleksi dan penyiangan bahan pustaka, manajemen dana); katalogisasi; pelayanan informasi pada user, manajemen staf dan siswa untuk pengembangan perpustakaan dalam jangka panjang); dan mengajar di perpustakaan karena setiap seminggu sekali ada pelajaran di perpustakaan bagi siswa di tiap jenjang kelas, siswa diperbolehkan untuk memilih buku-buku yang akan di display di kelasnya selama satu minggu. Selain itu, karena belum ada OPAC maka pustakawan mengajarkan pada siswa mengenai bagaimana menemukan buku di perpustakaan dengan cara manual menggunakan sistem DDC. Pustakawan biasanya menggunakan permainan seperti research safari dan memory game karena siswa lebih mudah memahami DDC dengan metode visual semacam ini. Sedangkan untuk siswa di semester jenjang akhir biasanya membutuhkan banyak bantuan dalam menemukan dan mengevaluasi informasi karena ada banyak sumber informasi yang tersedia di perpustakaan, seperti database online, CDROMs, Encarta and World Book.
5. Bidang kerja di Consortia meliputi pekerjaan Online Computer Library Center (OCLC) dalam memberi pelatihan seputar internet dan dan topic teknologi lainnya pada pustakawan dan staf perpustakaan (internet trainer); pelayanan OCLC local untuk mendukung pengembangan OCLC (member support coordinator). Salah satu penyedia layanan OCLC lokal adalah Philadelphia Area Library Network (PALINET), anggotanya terdiri dari perpustakaan, museum, dan organisasi lain yang membuat persetujuan kerjasama untuk saling berbagi informasi (information sharing); memfasilitasi networking komunitas pustakawan guna mengidentifikasi apa yang mereka perlukan dan sistem seperti apa yang dapat mendukungnya (knowledge management sevices).
6. Bidang kerja di Fakultas Ilmu Informasi dan Perpustakaan (LIS Faculty) meliputi pekerjaan mengajar, melakukan penelitian, pengembangan diri mahasiswa dalam praktik dan networking dengan pihak lain yang memiliki kesamaan ketertarikan misalnya melalui penyelenggaraan konferensi, workshop,penelitian (assistant professor, visiting instructor at international university).
7. Bidang kerja di Library Vendors meliputi pekerjaan terkait proyek pengadaan koleksi. Dalam menjalankan pekerjaan ini diperlukan kemampuan untuk analisis hal-hal yang potensial bagi proyek pengadaan koleksi, misalnya pasar sasaran untuk perpustakaan khusus, sekolah, perpustakaan umum, dan sebagainya. Selain itu, juga harus paham mengenai teknologi, sumber informasi digital dan tercetak. Untuk mendapat pekerjaan ini, cobalah untuk dating di vendor exhibits dan temui slaes manager dari perusahaan yang bersangkutan. Pekerjaan sebagai kataloger juga dapat ditemui dalam bidang ini.
 8. Bidang kerja di Penerbitan yang sesuai dengan kompetensi lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan meliputi pengarang, editor, indexer, web marketing, database librarian.
9. Bidang Kerja Nontradisional. Salah satu pekerjaan bidang non tradisional yang sesuai dengan kompetensi lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan adalah personal librarian, sebagaimana ditulis Schontz Richard (2007:386).
(sumber

“TREND PEKERJAAN PUSTAKAWAN SAAT INI “
Perpustakaan McMaster University telah mengangkat 7 pustakawan baru, yaitu: (1) gaming librarian,
(2) digital strategist,
(3) digital technologist,
(4) e-resources librarian,
(5) archivist librarian,
(6) marketing and communication librarian, dan
(7) teaching and learning librarian.
Mereka semua adalah pustakawan dan juga memiliki latar belakang sebagai pustakawan. Lantas, bagaimana dengan pustakawan Indonesia? Masih perlukah kita tetap bertahan dalam status quo, sementara dunia semakin berubah dan masyarakat pengguna semakin menuntut kemudahan dan kenyamanan dalam mengakses informasi?


Merci beaucoup
J J J J


0 komentar

Posts a comment

 
© Perpustakaan digital
Designed by Blog Thiết Kế
Back to top