PERPUSTAKAAN
DIGITAL
Kompetensi
Utama dan Profesi Pustakawan Digital
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
:
ARDINAL NAINGGOLAN
130709098
B
ILMU
PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI
FAKULTAS
ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS
SUMATERA UTARA
2015
KOMPETENSI
YANG HARUS DIMILIKI PUSTAKAWAN DIGITAL
Shapiro
dan Hughes (1996) yang menyatakan bahwa ada tujuh keterampilan yang
dibutuhkan pustakawan dalam era digital
ini, yaitu:
1.Tool literacy
kemampuan memahami dan mengunakan alat
teknologi informasi secara konseptual maupun praktikal, termasuk di dalamnya
kemampuan menggunakan perangkat lunak, keras, multimedia, yang relevan dengan
bidang kerja atau sutdi. Termasuk di sini adalah pengetahuan dasar komputer dan
aplikasi jaringan, juga pemahaman dasar tentang konsep algoritme, struktur
data, topologi jaringan, dan protokol komunikasi data.
2. Resource literacy
kemampuan memahami
bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan sumberdaya informasi, terutama
dari jaringan informasi yang terus berkembang. Pengetahuan ini sesuai dengan
konsepsi pustakawan tentang information literacy, dan mencakup di dalamnya
pengetahuan tentang klasifikasi dan pengorganisasian sumberdaya informasi
tersebut.
3. Social-structural literacy
pemahaman yang benar
tentang bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak di dalam sebuah
masyarakat. Ini artinya memahami siapa-siapa yang berada dibalik produksi
informasi ilmiah, jaringan ilmuan mana yang menghasilkannya, apa kaitannya
antara satu produsen dengan produsen lainnya, apakah ada lembaga yang dominan
dalam proses itu (universitas, pemerintah, swasta). Ini juga berarti memahami
bahwa ada proses formal yang harus dilalui oleh setiap informasi ilmiah sebelum
dapat diakui sebagai ilmiah.
4. Research
literacy
kemampuan menggunakan
peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset. Para mahasiswa
pascasarjana mungkin harus tahu bagaimana menggunakan Internet sebagai lapangan
penelitian, memanfaatkan perangkat lunak statistik untuk analisis, atau
perangkat lunak khusus untuk penelitian kualitatif. Para peneliti dituntut
untuk semakin terampil menggunakan komputer dalam setiap tahap kegiatan
penelitiannya.
5. Publishing literacy
kemampuan untuk
menyusun dan menerbitkan publikasi dan ide ilmiah ke kalangan luas dengan
memanfaatkan komputer dan Internet. Kemajuan teknologi saat ini, ditambah
dengan gerakan-gerakan yang ‘membebaskan’ para ilmuan dari kukungan tradisi
ilmu yang ketat di jaman cetakan, membuka kesempatan amat luas bagi setiap
orang untuk menampilkan pemikirannya di Internet. Kemampuan membuat situs di
Internet dan merawat serta mengundang pengunjung dalam jumlah besar, kini nyaris
menjadi tuntutan umum bagi para cendekiawan.
6. Emerging technology literacy
kemampuan yang
memungkinkan seseorang untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan
perkembangan teknologi dan bahkan bersama-sama komunitasnya ikut menentukan
arah pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu.
Perkembangan mailing-list merupakan contoh bagaimana sekelompok orang yang
cekatan dapat memanfaatkan Internet secara baik, walaupun pada mulanya
teknologi ini hanya merupakan ‘usus buntu’ bagi program email.
7. Critical
literacy
yang merupakan kemampuan melakukan evaluasi secara
kritis terhadap untung-ruginya menggunakan teknologi telematika dalam kegiatan
ilmiah. Seorang cendekiawan yang kritis diharapkan tidak menerima begitu saja
kenyataan tentang teknologi yang sekarang tersedia secara meluas, dan dapat
melakukan pemeriksaan terhadap manfaat teknologi bagi kegiatan ilmiahnya. Untuk
memiliki kemampuan ini, seringkali seseorang harus rajin menyimak perkembangan
teknologi itu sendiri dan memahami, atau setidaknya mengetahui, sejarah dan
latarbelakang
(Sumber : http://eprints.undip.ac.id/5367/2/makalah_pak_putu.pdf
diakses tanggal 1 April 2015 jam 1.30 wib )
Keterampilan
teknis pustakawan digital
1.Database
design and management
Keterampilan
pengetahuan dan pengalaman dengan desain database relasional, penyebaran
dan manajemen termasuk kemampuan dengan SQL pada kedua database server
komersial dan open source.
2
.
Digital collection management
Keterampilan ini berupa pemahaman dan pengalaman mengelola semua
aspek dari koleksi digital termasuk kemampuan teknis secara keseluruhan dalam
alat dan teknologi yang berkaitan dengan repositori digital dan pengembangan
koleksi digital.
3.Digital
content management systems
Keterampilan ini berupa pengalaman menggunakan atau
mengelola konten umum sistem manajemen termasuk system manajemen aset digital . contoh-contoh
spesifik
termasuk DSpace, CONTENTdm , Drupal, Luna Insight,
DLXS, WordPress, and Omek
4. Digital
convertion
Keterampilan ini berupa pengetahuan tentang konversi analog bahan-bahan untuk format
digital dalam konteks perpustakaan. Ini
mencakup pengetahuan digitalisasi peralatan dan praktik terbaik,format file
arsip, dan memformat audio dan video.
5 . Digital
preservation
Keterampilan
ini berupa pengetahuan dan pengalaman
dengan pelestarian baik analog dan digital bahan dan kemampuan untuk mengelola
pelestarian berkelanjutan konten koleksi digita
6 . Metadata
and cataloging standards
Keterampilan
ini berupa memahami standar – standar yang berlaku dan akrab
dengan metadata yang baru muncul atau dibentukdan standar katalogisasi termasuk Dublin Core, EAD,TEI,
FRBR dan RDA sebagai sebagai kosakata terkontrol (controlled vocabularies ).
7 . Programming:
JAVA, C, Cþþ
Keterampilan ini berupa pemahaman secara
menyeluruh tentang
bahasa pengembangan seperti JAVA, C, Cþþ, etc.
8 .Programming:
scripting languages
Keterampilan
ini berupa kemampuan dalam memahami bahasa pemprograman seperti PHP, Perl,
JavaScript, Ruby dan Python.
9 .Systems
and network administration and desktop support
Keterampilan ini berupa pemahaman dalam menggunakna Sistem Operasi Unix / Linux
/ Windows
server, merancang dan mengelolajaringan, dan
menyediakan dekstopkonfigurasi dan dukungan untuk kedua Mac dan Windows PC.
10 .Web
application development
Keterampilan ini berupa kemapuan dalam menggunakan
bahasa scripting, relasional database dalam penciptaan situs web dinamis dan aplikasinya .
11 . Web
design and web standards
Keterampilan
ini berupa pemahaman tentang desain web standar
termasuk HTML,XHTML, CSS, desain antarmukadan platform perangkat lunak umum
dalam pengembangan web sepertiDreamweaver.
12 .XML and
related standards
Keterampilan ini berupa pengalaman dengan XML dan
teknologi yang terkait seperti XSLT dan XML database.
( sumber : http://sc.lib.muohio.edu/bitstream/handle/2374.MIA/4942/Article.pdf?sequence=1
diakses tanggal 1 April Pukul 15.05 wib)
B
. Keterampilan komunikasi interpersonal
Keterampilan komunikasi
interpersonal sangat penting bagi pustakawan, karena dalam kegiatan layanan
informasi pustakawan berhadapan langsung dengan para pengguna perpustakaan atau
pencari informasi. Mengacu pada keterampilan komunikasi interpersonal yang
dikemukakan oleh DeVito, berdasarkan Humanistic Model dan Pragmatic Model, juga
dengan memperhatikan situasi dan kondisi kegiatan di perpustakaan, maka
keterampilan komunikasi interpersonal yang harus dimiliki pustakawan adalah:
empathy, supportiveness, positiveness, equality, confidence, immediacy,
interaction management. Disamping itu seorang pustakawan juga harus memiliki
kemampuan mendengarkan yang baik.
Kompetensi pustakawan
di era 2.0
Berbagai perubahan yang dibawa oleh library 2.0 mensyaratkan adanya transformasi dalam diri pustakawan, berupa peningkatan kapasitas, kompetensi, kecerdasan, dan perbaikan sikap.
Berbagai perubahan yang dibawa oleh library 2.0 mensyaratkan adanya transformasi dalam diri pustakawan, berupa peningkatan kapasitas, kompetensi, kecerdasan, dan perbaikan sikap.
Dalam bahasa Agus M. Irkham (2009), librarian 2.0
harus memiliki kemauan untuk berbagi, bersahabat, gaul, mahir menulis, dan
aktif dalam berbagai jejaring sosial. Jargon “berbagi pengetahuan” yang
merupakan prinsip dasar dari web 2.0 benar-benar diaplikasikan oleh sosok librarian 2.0
ini. Mereka bergerak aktif membangun kemampuan literasi pengguna, baik di dunia
nyata maupun maya, bersikap proaktif, dan mampu melakukan transfer pengetahuan.
Abram (2007:2) menguraikan
prasyarat-prasyarat untuk menjadi librarian 2.0, antara lain:
(1) memahami
benar-benar berbagai manfaat yang ditawarkan oleh web 2.0,
(2) mau mempelajari
alat dan perangkat utama web 2.0 dan library 2.0,
(3) mampu memadukan
format koleksi digital dan tercetak,
(4) mampu mengakses
informasi dalam berbagai format,
(5) mampu menggunakan
informasi non tekstual, seperti gambar, suara, citra bergerak,
(6) menggunakan dan
mengembangkan jejaring sosial untuk memperoleh manfaat maksimal,
(7) mampu
berkomunikasi dengan orang lain melalui beragam teknologi, seperti telepon,
Skype, IM, SMS, texting, email, referensi virtual, dan lain sebagainya.
Selain terampil memaksimalkan potensi web 2.0, pustakawan dalam era 2.0 secara umum juga harus mengembangkan kompetensi profesional dan pribadinya. Menurut Laili bin Hashim dan Wan Nor Haliza (2005:5-6), kompetensi profesional dan pribadi ini perlu sekali untuk menyiapkan pustakawan dan profesional informasi yang tangguh di era baru TIK. Kompetensi profesional pustakawan berkaitan dengan pengetahuan khusus mengenai kepustakawanan, terutama dalam bidang sumber daya, akses, teknologi, manajemen dan riset informasi, serta kemampuan untuk menggunakan bidang pengetahuan tersebut sebagai basis untuk menyelenggarakan layanan informasi dan perpustakaan. Sedangkan kompetensi pribadi merepresentasikan seperangkat keterampilan, sikap, dan nilai yang memungkinkan pustakawan untuk bekerja secara efisien, seperti menjadi komunikator yang baik, fokus pada pembelajaran berkelanjutan selama berkarir, dan mampu menunjukkan nilai tambah dalam sumbangsih mereka. Kompetensi profesional pustakawan meliputi:
Selain terampil memaksimalkan potensi web 2.0, pustakawan dalam era 2.0 secara umum juga harus mengembangkan kompetensi profesional dan pribadinya. Menurut Laili bin Hashim dan Wan Nor Haliza (2005:5-6), kompetensi profesional dan pribadi ini perlu sekali untuk menyiapkan pustakawan dan profesional informasi yang tangguh di era baru TIK. Kompetensi profesional pustakawan berkaitan dengan pengetahuan khusus mengenai kepustakawanan, terutama dalam bidang sumber daya, akses, teknologi, manajemen dan riset informasi, serta kemampuan untuk menggunakan bidang pengetahuan tersebut sebagai basis untuk menyelenggarakan layanan informasi dan perpustakaan. Sedangkan kompetensi pribadi merepresentasikan seperangkat keterampilan, sikap, dan nilai yang memungkinkan pustakawan untuk bekerja secara efisien, seperti menjadi komunikator yang baik, fokus pada pembelajaran berkelanjutan selama berkarir, dan mampu menunjukkan nilai tambah dalam sumbangsih mereka. Kompetensi profesional pustakawan meliputi:
• memiliki pengetahuan
khusus mengenai konten sumber daya informasi, termasuk pula kemampuan untuk
mengevaluasi dan menyaringnya secara kritis;
• memiliki pengetahuan subyek khusus yang tepat untuk kepentingan organisasi dan pengguna;
• mengembangkan dan mengelola layanan informasi yang tepat, mudah diakses, dan efektif biaya yang sejalan dengan tujuan strategis organisasi;
• menyediakan instruksi dan fasilitas pendukung untuk pengguna jasa perpustakaan dan informasi;
• menaksir kebutuhan informasi, mendesain dan memasarkan jasa dan produk yang memiliki nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan informasi yang telah diidentifikasi;
• menggunakan teknologi informasi yang tepat untuk memperoleh, mengorganisasi, dan menyebarkan informasi;
• menggunakan pendekatan manajemen dan bisnis untuk mengkomunikasikan pentingnya layanan informasi bagi kalangan manajemen senior;
• mengembangkan produk informasi khusus untuk penggunaan di dalam maupun di luar organisasi atau oleh pengguna individual;
• mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan penelitian tentang pemecahan masalah manajemen informasi;
• meningkatkan layanan informasi secara kontinyu untuk merespon kebutuhan yang terus berubah
• memiliki pengetahuan subyek khusus yang tepat untuk kepentingan organisasi dan pengguna;
• mengembangkan dan mengelola layanan informasi yang tepat, mudah diakses, dan efektif biaya yang sejalan dengan tujuan strategis organisasi;
• menyediakan instruksi dan fasilitas pendukung untuk pengguna jasa perpustakaan dan informasi;
• menaksir kebutuhan informasi, mendesain dan memasarkan jasa dan produk yang memiliki nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan informasi yang telah diidentifikasi;
• menggunakan teknologi informasi yang tepat untuk memperoleh, mengorganisasi, dan menyebarkan informasi;
• menggunakan pendekatan manajemen dan bisnis untuk mengkomunikasikan pentingnya layanan informasi bagi kalangan manajemen senior;
• mengembangkan produk informasi khusus untuk penggunaan di dalam maupun di luar organisasi atau oleh pengguna individual;
• mengevaluasi hasil penggunaan informasi dan melakukan penelitian tentang pemecahan masalah manajemen informasi;
• meningkatkan layanan informasi secara kontinyu untuk merespon kebutuhan yang terus berubah
Sedangkan kompetensi pribadi pustakawan meliputi:
• komitmen untuk pelayanan prima;
• mencari tantangan dan melihat kesempatan baru di dalam maupun di luar perpustakaan;
• turut menciptakan lingkungan yang saling respek dan saling mempercayai;
• memiliki kemampuan komunikasi yang efektif;
• mampu bekerja dengan baik dalam tim;
• memiliki kemampuan kepemimpinan;
• merencanakan, memprioritaskan, dan berfokus pada apa yang mendesak;
• berkomitmen terhadap pembelajaran seumur hidup (lifelong learning);
• memiliki skill bisnis dan menciptakan kesempatan baru;
• mengetahui nilai dari jejaring dan solidaritas profesional;
• bersikap fleksibel dan positif dalam menghadapi perubahan
Library 2.0 membuka berbagai kemungkinan baru untuk membantu pustakawan mengembangkan kompetensinya, terutama bagaimana pustakawan dapat turut mengambil peran membangun kemampuan literasi masyarakat. Sebagaimana yang pernah dikemukakan oleh John Perry Barlow dalam Wastawy (2007), “Pustakawan harus memahami bahwa mereka memiliki tugas untuk menciptakan sebuah ruang kognitif dalam lingkungan. Mereka harus memastikan diri bisa menyediakan sebuah ruang yang kaya, dimana manusia bisa berkumpul, berinteraksi, dan menjadi manusia yang ‘lebih’. Jika pustakawan mampu melakukan itu dengan baik, maka mereka akan menjadi bagian dari masa depan”.
(sumber : http://digilib.undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-lain/artikel/52-peran-pustakawan-di-era-library-20 diakses tanggal 01 April 2015 Pukul 17 :05
WIB)
Sedangkan
menurut Hawamdeh dan Foo (dalam Foo,
2008) mengutarakan bahwa seorang pustakawan/spesialis informasi harus
memiliki kompetensi dan kemampuan dalam:
1. Manajemen
dan kepemimpinan
Merancang strategi untuk mengatasi kebutuhan
pengetahuan informasi yang kompleks.
Mengembangkan, memelihara, mengakses sitem informasi
dengan biaya seefektif mungkin
Memotivasi dan mendorong berbagi pengetahuan
Mengelola pengetahuan eksternal dan membawa sumber
daya berharga ke dalam organisasi dan anggotanya
2. Sosial dan
komunikasi
Kemampuan untuk berinteraksi dan bersosialisasi
dengan anggota organisasi sebagai individu, tim, dan masyarakat
Kemampuan untuk membujuk
Mampu berkomunikasi dengan jelas, baik secara lisan
dan dalam bentuk tertulis.
3. Perilaku
personal dan atribut,
yaitu seorang pustakawan harus mempunyai sikap yang
proaktif, responsif, bersahabat, kreatif, percaya diri, sensitif, menyenangkan,
sabar, fleksibel, serta kedalaman atau subjek khusus dan latar belakang
pengetahuan yang tepat untuk organisasi
4. Strategi
berfikir dan kemampuan analisis
Menunjukkan sistem berpikir
Memahami proses bisnis
Informasi membutuhkan proses bisnis dan tujuan.
Kemampuan untuk berpikir logis
Buat cara baru untuk memperoleh informasi dan
pengetahuan.
Buat nilai tambah layanan informasi / sistem /
produk.
5. Kemampuan
mengakses informasi
Mencocokkan kebutuhan informasi dengan sumber daya
informasi
Keahlian dalam sumber-sumber dan isi informasi
Keahlian dalam mencari informasi
Kemampuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi dan
merekomendasikan sumber informasi
Memberikan akses informasi
Kemampuan untuk menerapkan keterampilan organisasi
informasi menjadi pengetahuan integrator internet dan pengetahuan intranet
6. Alat dan
teknologi
Up to date dan familier dengan alat KM & IT
dan perkembangannya
Penguasaan sistem informasi di rumah
Penguasaan alat di rumah untuk pengetahuan
menangkap (capture), diseminasi, dan berbagi.
(Sumber : http://dessy-h-s-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-69641-Layanan-WEB%202.0,%20PERPUSTAKAAN%202.0,%20PUSTAKAWAN%202.0.html diakses tanggal 01 April 2015, Pukul 17 : 12
WIB )S
Peluang kerja
lulusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi
Peluang
kerja yang potensial untuk dijalani oleh Sarjana Ilmu Informasi dan
Perpustakaan dengan memanfaatkan pengetahuannya di bidang Informasi dan
Perpustakaan Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan DITJEN DIKTI yaitu Sailah
(2011) menjelaskan bahwa profil lulusan memaparkan ”peran” yang diharapkan bisa
dilakukan oleh lulusan di dunia kehidupan.
Peran ini bisa menunjuk kepada suatu profesi
(dokter, arsitek, pengacara) atau jenis pekerjaan yang khusus (manager
perusahaan, praktisi hukum, akademisi) atau bentuk kerja yang bisa digunakan
dalam beberapa bidang yang lebih umum (komunikator, kreator, leader) yang
dicanangkan oleh program studi yang bersangkutan. Dari rumusan hasil sidang
pleno Kurikulum Pendidikan Ilmu Perpustakaan tahun (2011) telah disepakati
bahwa Profil sarjana perpustakaan adalah Pengelola dan Pengembang Perpustakaan
dan Pusat Dokumentasi – Informasi), pengkaji informasi, pendidik, manajer,
agent of change (penggerak masyarakat), dan communicator.
Berdasarkan Laporan Evaluasi Diri Program Studi Sarjana Ilmu Informasi dan
Perpustakaan Universitas Airlangga tahun 2011, disebutkan bahwa lapangan
pekerjaan yang diprediksi dapat menyerap lulusan prodi Ilmu Informasi dan Perpustakaan
antara lain adalah :
a.Pusat dokumentasi baik di instansi negeri
maupun swasta
b.Pusat
informasi (lembaga riset) di berbagai perusahaan, organisasi, dan instansi
c.Pusat arsip di instansi negeri maupun swasta
d.Badan arsip baik di daerah maupun provinsi
e.Perpustakaan
umum baik dan provinsi
f.
Perpustakaan sekolah negeri dan swasta
g.Perpustakaan perguruan tinggi negeri dan
swasta
h.Perpustakaan
khusus (dinas negeri dan swasta)
i. Wirausaha di bidang pengolahan dan
pengelolaan informasi
j. Bisnis informasi online
k.Bidang pengolahan dan pengelolaan informasi
di berbagai lembaga bisnis maupun pemerintahan (misalnya perbankan, media
massa, BUMN/BUMD, dan lain-lain).
Selain
lembaga dan lapangan kerja di atas, tidak menutup kemungkinan adanya lembaga
atau instansi dan lapangan kerja lain yang membutuhkan dan bisa dimasuki
lulusan prodi ilmu informasi dan perpustakaan. para lulusan dipersiapkan tentu
bukan untuk profesi yang sifatnya “teknis” atau sekedar menjadi tukang,
melainkan lulusan yang memiliki kemampuan metodologi, kemampuan manajerial, dan
kemampuan yang komprehensif, yang didukung bidang keilmuan yang sifatnya
eklektif dan terpadu. Beberapa literatur memberikan identifikasi peluang
profesi bagi lulusan pendidikan Ilmu Informasi dan Perpustakaan.
Shontz
and Richard (2007) dalam bukunya A Day in the Life Career Options in Library
and Information Science memberikan gambaran tentang ragam profesi dalam konteks
Ilmu Informasi dan Perpustakaan. Tulisan dalam buku ini mengcover pekerjaan
dari information professional di banyak Negara yaitu amerika serikat dan
kanada, Australia, Bolivia, Inggris, Jerman, Hungaria, Nigeria, Norwegia,
Filipina, Qatar dan Skotlandia. Berikut adalah resume penulis, mengutip dari
Shontz and Richard (2007)
1.
Bidang kerja di perpustakaan umum meliputi pekerjaan mengenai desain program
untuk user di beragam usia (adult, teen, children’s librarian); memberikan
bimbingan untuk orangtua-anak tentang pengembangan koleksi untuk anak (buku
fiksi, non fiksi, majalah, CD, DVD dan sebagainya); display dan pelayanan koleksi
multimedia seperti musik, film, CD-ROMs, audiobooks (disebut multimedia
librarian); perawatan fasilitas di perpustakaan, organize programming,
strategic planning, financial accountability, posting blog, pengembangan SDM,
(tugas administrator) ; tim pengembangan koleksi (finding the right book for
the right reader).
2.
Bidang kerja di perpustakaan khusus hampir sama dengan pustakawan pada umumnya,
yaitu pengadaan – pengelolaan – dan pelayanan koleksi. Namun pada perpustakaan
khusus, koleksi yang dimiliki khusus yaitu hanya pada subjek keilmuan tertentu
saja disesuaikan dengan patron community yang dilayani. Implikasinya adalah
pustakawan harus paham benar dengan subjek keilmuan yang dikelolanya sehingga
dapat mengikuti perkembangannya untuk akuisisi sekaligus wawasan dalam
penyampaiannya pada user. Keberadaan perpustakaan khusus ada pada museum,
kepolisian, pusat kesehatan, kedutaan besar, arsip film, komunitas, kelompok
berkebutuhan khusus/disable dan sebagainya.
3.
Bidang kerja di perpustakaan akademik meliputi pekerjaan mengenai pelayanan
referensi (reference librarian); melakukan katalogisasi dan klasifikasi dari
banyak koleksi di beragam format dan beragam subjek (cataloging/training
librarians); melakukan katalogisasi dan klasifikasi koleksi non buku sesuai
standar MARC dan Dublin Core seperti peta, buku elektronik, audio-books,
mikrofis, microfilm, CD-ROMs, rekaman suara, rekaman video, database online,
dan sebagainya (disebut special material cataloger); melaksanakan sirkulasi,
pemesanan, dan pemeliharaan koleksi (disebut Access Services Librarian);
mengorganisasi sumber informasi digital untuk institusi seperti pengembangan
Online Public Access Catalogue,
persipapan insfratrukstur pendukung interlibraryloan, Open Access, Metadata,
(disebut Metadata Specialist).
4.
Bidang kerja di perpustakaan sekolah: Seorang pustakawan di sekolah
internasional di Bolivia menyatakan bahwa tanggungjawabnya dalam manajemen
perpustakaan meliputi pengembangan koleksi (seleksi dan penyiangan bahan
pustaka, manajemen dana); katalogisasi; pelayanan informasi pada user,
manajemen staf dan siswa untuk pengembangan perpustakaan dalam jangka panjang);
dan mengajar di perpustakaan karena setiap seminggu sekali ada pelajaran di
perpustakaan bagi siswa di tiap jenjang kelas, siswa diperbolehkan untuk
memilih buku-buku yang akan di display di kelasnya selama satu minggu. Selain
itu, karena belum ada OPAC maka pustakawan mengajarkan pada siswa mengenai
bagaimana menemukan buku di perpustakaan dengan cara manual menggunakan sistem DDC.
Pustakawan biasanya menggunakan permainan seperti research safari dan memory
game karena siswa lebih mudah memahami DDC dengan metode visual semacam ini.
Sedangkan untuk siswa di semester jenjang akhir biasanya membutuhkan banyak
bantuan dalam menemukan dan mengevaluasi informasi karena ada banyak sumber
informasi yang tersedia di perpustakaan, seperti database online, CDROMs,
Encarta and World Book.
5.
Bidang kerja di Consortia meliputi pekerjaan Online Computer Library Center
(OCLC) dalam memberi pelatihan seputar internet dan dan topic teknologi lainnya
pada pustakawan dan staf perpustakaan (internet trainer); pelayanan OCLC local
untuk mendukung pengembangan OCLC (member support coordinator). Salah satu
penyedia layanan OCLC lokal adalah Philadelphia Area Library Network (PALINET),
anggotanya terdiri dari perpustakaan, museum, dan organisasi lain yang membuat
persetujuan kerjasama untuk saling berbagi informasi (information sharing);
memfasilitasi networking komunitas pustakawan guna mengidentifikasi apa yang
mereka perlukan dan sistem seperti apa yang dapat mendukungnya (knowledge
management sevices).
6.
Bidang kerja di Fakultas Ilmu Informasi dan Perpustakaan (LIS Faculty) meliputi
pekerjaan mengajar, melakukan penelitian, pengembangan diri mahasiswa dalam
praktik dan networking dengan pihak lain yang memiliki kesamaan ketertarikan
misalnya melalui penyelenggaraan konferensi, workshop,penelitian (assistant
professor, visiting instructor at international university).
7.
Bidang kerja di Library Vendors meliputi pekerjaan terkait proyek pengadaan
koleksi. Dalam menjalankan pekerjaan ini diperlukan kemampuan untuk analisis
hal-hal yang potensial bagi proyek pengadaan koleksi, misalnya pasar sasaran
untuk perpustakaan khusus, sekolah, perpustakaan umum, dan sebagainya. Selain
itu, juga harus paham mengenai teknologi, sumber informasi digital dan
tercetak. Untuk mendapat pekerjaan ini, cobalah untuk dating di vendor exhibits
dan temui slaes manager dari perusahaan yang bersangkutan. Pekerjaan sebagai
kataloger juga dapat ditemui dalam bidang ini.
8. Bidang kerja di Penerbitan yang sesuai
dengan kompetensi lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan meliputi pengarang,
editor, indexer, web marketing, database librarian.
9.
Bidang Kerja Nontradisional. Salah satu pekerjaan bidang non tradisional yang
sesuai dengan kompetensi lulusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan adalah
personal librarian, sebagaimana ditulis Schontz Richard (2007:386).
(sumber
https://www.academia.edu/9659795/PELUANG_KERJA_SARJANA_ILMU_INFORMASI_DAN_PERPUSTAKAAN_-_UNIVERSITAS_AIRLANGGA_PERSEPSI_DAN_REALITAS diakses Tanggal 01 April 2015
pukul16 : 59 ).
“TREND
PEKERJAAN PUSTAKAWAN SAAT INI “
Perpustakaan McMaster University telah mengangkat 7
pustakawan baru, yaitu: (1) gaming
librarian,
(2) digital strategist,
(3) digital technologist,
(4) e-resources librarian,
(5) archivist librarian,
(6) marketing and communication
librarian, dan
(7) teaching and learning librarian.
Mereka semua adalah pustakawan dan juga
memiliki latar belakang sebagai pustakawan. Lantas, bagaimana dengan pustakawan
Indonesia? Masih perlukah kita tetap bertahan dalam status quo, sementara dunia
semakin berubah dan masyarakat pengguna semakin menuntut kemudahan dan
kenyamanan dalam mengakses informasi?
(sumber : http://digilib.undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-lain/artikel/52-peran-pustakawan-di-era-library-20
diakses tanggal 01 April 2015 , Pukul 17 :17 wib)
Merci beaucoup
J
J J J








0 komentar
Posts a comment